Makala Praktikum Ekonomi Sumber
Daya Hutan Medan,
Maret 2021
IDENTIFIKASI MANFAAT EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus
Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
Taricha Audrey N 191201001
Muhammad Afif A 191201002
Rahmat Afandi 191201005
Putri Armenia Urelia 191201006
Angelius Nababan 191201145
Samuel J P Sianipar 191201181
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa,
karena berkat kasih dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Makalah Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan
ini dengan baik.
Makalah Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan
yang berjudul “Identivikasi Manfaat Ekonomi Sumber Daya Hutan” ini
dimaksudkan untuk memenuhi tugas Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan
sebagai syarat masuk Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan
di
minggu yang akan datang pada Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas
Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima
kasih kepada dosen penanggungjawab Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan Dr. Agus
Purwoko, S.Hut., M.Si sikarena telah memberikan materi dengan baik dan benar. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada asisten yang telah memberikan bimbingan
dan arahan selama penulis mengikuti kegiatan praktikum ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya
untuk memperbaiki isi makalah ini akan sangat penulis hargai. Semoga tulisan
ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Medan, Maret 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR....................................................................................... i
PENDAHULUAN
Latar Belakang............................................................................................... 1
Tujuan ............................................................................................................ 2
TINJAUAN PUSTAKA
METODE
PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat........................................................................................ 6
Bahan dan Alat.............................................................................................. 6
Prosedur Praktikum........................................................................................ 6
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil............................................................................................................... 7
Pembahasan ................................................................................................... 7
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan .................................................................................................... 9
Saran .............................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pohon-pohon di hutan alam
tumbuh dalam ekosistem yang rapat, sehingga terjadi kompetisi yang ketat untuk
mendapatkan cahaya dan unsur hara. Hutan hujan tropis merupakan hutan segala
umur yang terbagi dalam lima strata yaitu strata A, B, C, D dan E. Strata A
merupakan lapisan paling atas sehingga tajuk pohon mendapatkan cahaya matahari
secara penuh baik dari atas atau samping. Strata B merupakan lapisan ke dua
dimana tajuk pohon hanya mendapatkan sinar matahari dari atas.Strata C
merupakan lapisan ke tiga dimana tajuk pohon hanya mendapatkan sinar matahari
dari celah-celah tajuk pohon yang lain. Strata D merupakan lapisan ke empat
dimana vegetasi hanya mendapatkan sinar matahari dari pantulan tajuk pohon lain. Strata E merupakan lapisan ke lima yang didominasi tumbuhan bawah, herba,
perdu serta semai dari berbagai jenis (Wahyudi dan Anwar, 2013).
Hutan adalah suatu lapangan
bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup
alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah sebagai
hutan. Jika pengertian hutan ditinjau dari sudut pandang sumberdaya ekonomi
terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi yaitu: lahan, vegetasi bersama semua
komponen hayatinya serta lingkungan itu sendiri sebagai sumberdaya ekonomi yang
pada akhir-akhir ini tidak dapat diabaikan. Sedangkan kehutanan diartikan
sebagai segala pengurusan yang berkaitan dengan hutan, mengandung sumberdaya
ekonomi yang beragam dan sangat luas pula dari kegiatan-kegiatan yang bersifat
biologis seperti rangkain proses silvikultur sampai dengan berbagai kegiatan
administrasi pengurusan hutan. Hal ini berarti kehutanan sendiri merupakan
sumberdaya yang mampu menciptakan sederetan jasa yang bermanfaat bagi masyarakat maupun
makhluk hidup lainnya (Syamsu, 2019)
Hutan sangat memainkan peran
penting dalam perekonomian masyarakat, dahulu kebutuhan kayu komersil bisa
didapatkan dengan mudah dari hutan yang sangat lebat. Kini keberadaan pohon
kayu tersebut semakin sulit untuk ditemui. Padahal kebetulan akan kayu komersil
semakin meningkat beriringan dengan meningkatnya populasi manusia salah satu
solusi terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan menanam kayu komersial. Pohon
kayu juga dapat dijual beberapa puluh tahun kemudian sehingga dapat dijadikan
lahan bisnis yang menjanjikan. Sumber daya hutan berperan sebagai penggerak
ekonomi dapat teridentifikasi dalam beberapa hal, yaitu pertama penyediaan
devisa untuk membangun sektor lain yang membutuhkan teknologi dari luar negeri.
Kedua, bentuk peranan tersebut yaitu penyediaan lahan dan hutan sebagai modal
awal untuk pembangunan berbagai sektorjika tidak ada hutan maka banyak kendala
yang akan didapat, terutama untuk kegiatan perkebunan, industri, dan sektor
ekonomi lainnya (Mukhlison, 2013).
Hutan alam telah semakin berkurang, yang
disebabkan oleh kegiatan tebas dan bakar, illegal logging, penebangan pohon
secara berlebihan serta konversi dari tanah-tanah hutan menjadi tanah-tanah pertanian.
Hutan di satu sisi sebagai penjerap
emisi karbon disisi lain juga dapat
menghasilkan/menyumbang emisi karbon di udara. Dengan makin berkurangnya hutan
alam dari tahun ke tahun, akan menyebabkan berkurangnya pasokan bahan baku kayu
bagi industri perkayuan yang ada selain itu
juga dapat meningkatkan emisi karbon di udara apabila pembakaran hutan selalu dilakukan dalam aktivitas manusia baik di
dalam ataupun di luar kawasan hutan. (Dwi dkk., 2011).
Sumber daya alam mempunyai peran penting dalam kelangsungan hidup manusia. Pengelolaan terhadap sumber daya alam harus sangat bijaksana. Karena diperlukan waktu yang cukup lama untuk bisa memulihkan kembali pabila telah terjadi kerusakan/kepunahan. Pengelolaan secara bijaksana yaitu pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang optimal dan berwawasan lingkungan agar sumber daya alam yang ada tetap lestari. Nilai ekonomi suatu sumberdaya hutan dibagi menjadi nilai penggunaan dan nilai non penggunaan. (Suzana dkk., 2011).
Tujuan
Adapun
tujuan dari Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Identifikasi Manfaat Ekonomi Sumberdaya Hutan” yaitu untuk mengetahui manfaat potensi sebagian pohon kehutanan, baik mamfaat tangible dan intangible.
TINJAUAN PUSTAKA
Ekonomi SDH adalah suatu bidang penerapan alat-alat
analisis ekonomi terhadap persoalan produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi,
penentuan harga termasuk dalam kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan
masyarakat (kesempatan kerja, pendapatan produk domestik dan pertumbuhan
ekonomi) yang termasuk dalam kajian ekonomi makro. Kajian ekonomi mikro dalam
ekonomi SDH untuk menjawab barang dan jasa hasil hutan apa yang diproduksi
sehingga dapat menguntungkan unit usaha (bisnis) sebagai pelaku usaha,
sedangkan kajian ekonomi makro akan menjawab bagaimana sumberdaya hutan
dimanfaatkan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat dalam pengertian bahwa
sumberdaaya hutan telah memberikan kontribusi bagi tersedianya lapangan kerja,
meningkatkan pendapatan masyarakat dan memberikan jasa perlindungan lingkungan
bagi semua masyarakat (Alam dan Supratman, 2011).
Hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak ternilai
karena didalamnya terdapat keanekaragaman hayati. Namun gangguan terhadap
sumberdaya hutan terus berlangsung bahkan intensitasnya semakin meningkat dari
tahun ketahun. Keseimbangan ekosistem hutan sering terganggu baik oleh bencana
alam maupun oleh perbuatan manusia. Adanya perilaku atau tindakan manusia yang
tidak bijaksana memperlakukan hutan yang menimbulkan permasalahan. Aktivitas
manusia seperti membakar hutan, pembalakan liar, pengembalaan, atau merombak
hutan untuk dijadikan tanaman pertanian atau tempat pemukiman telah merubah
habitat hutan asli. Secara alamiah hutan-hutan yang mendapat gangguan
(kebakaran) atau dirombak akan kembali menjadi hutan sekunder setelah melalui
tahap-tahapsuksesi (Saharjo dan Corneliu, 2011).
Sumberdaya hutan (SDH) Indonesia menghasilkan
berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada tingkatan lokal, nasional, maupun
global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat nyata yang terukur (tangible) berupa hasil hutan kayu, hasil
hutan non kayu seperti rotan, bambu, damar dan lain-lain, serta manfaat tidak
terukur (intangible) berupa manfaat
perlindungan lingkungan, keragaman genetik dan lain-lain. Saat ini berbagai
manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai secara rendah sehingga
menimbulkan terjadinya eksploitasi SDH yang berlebih. Hal tersebut disebabkan
karena masih banyak pihak yang belum memahami nilai dari berbagai manfaat SDH
secara komperehensif. Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut perlu dilakukan
penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini. Penilaian sendiri
merupakan upaya untuk menentukan nilai atau manfaat dari suatu barang atau jasa
untuk kepentingan manusia. (Nurfatriani, 2011).
Manfaat SDH sendiri tidak semuanya memiliki harga
pasar, sehingga perlu digunakan pendekatan-pendekatan untuk mengkuantifikasi
nilai ekonomi SDH dalam satuan moneter. Sebagai contoh manfaat hutan dalam
menyerap karbon, dan manfaat ekologis serta lingkungan lainnya. Karena sifatnya
yang non market tersebut menyebabkan banyak manfaat SDH belum dinilai secara
memuaskan dalam perhitungan ekonomi. Tetapi saat ini, kepedulian akan
pentingnya manfaat lingkungan semakin meningkat dengan melihat kondisi SDA yang
semakin terdegradasi. Untuk itu dikembangkan berbagai metode dan teknik
penilaian manfaat SDH, baik untuk manfaat SDH yang memiliki harga pasar ataupun
tidak, dalam satuan moneter. Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk menjelaskan
konsep nilai ekonomi total dan berbagai metode yang digunakan untuk menilai
manfaat SDH dan lingkungan (Purba dkk.,
2020).
Hasil hutan juga jelas merupakan sumberdaya ekonomi
potensial yang beragam yang didalam areal kawasan hutan mampu menghasilkan
hasil hutan kayu, non kayu dan hasil hutan tidak kentara (intangible) seperti perlindungan tanah, pelestarian sumberdaya air
dan beragam hasil wisata. Uraian tersebut di atas terungkap bahwa hutan,
kehutanan dan hasil hutan sesungguhnya menjadi sumberdaya (resources) yang mempunyai potensi menciptakan barang, jasa serta
aktifitas ekonomi yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kajian ekonomi akan
meliputi semberdaya sendiri-sendiri atau secara majemuk sehingga disebut
sumberdaya hutan (Wirakusumah, 2011).
Pada dasarnya ekonomi sumberdaya hutan tidak berbeda
dengan ilmu pengetahuan ekonomi pada umummnya, karena sumberdaya hutan mengandung
sifat-sifat khas sehingga dipandang dapat dipahami kalau dipelajari sebagai
subjek pengetahuan tersendiri. Sifat-sifat khas SDH sebagai berikut: 1). Produk
SDH senantiasa tumbuh dalam proses produksi yang berlainan dengan produksi
dalam suatu pabrik yang meramu bahan mentah melalui suatu proses teknologi yang
dapat diatur waktunya. Proses produksi SDH tergantung alam dan memerlukan waktu
lebih lama 2). Kayu sebagai salah satu produk utama sumberdaya hutan yang penting
diambil dari pohon-pohon yang beragam umurnya memerlukan persediaan yang cukup
besar (luas dan volumenya), dengan sendirinya menuntut manajemen yang tidak
sederhana 3). Akibat situasi di atas, massa kayu yang merupakan tegakan yang
senantiasa tumbuh itu tidak mudah dibedakan apakah merupakan produksi akhir
atau sebagai modal yang sedang dalam pertumbuhan (Damayanti, 2011).
Sumberdaya hutan berperan sebagai penggerak ekonomi
dapat teridentifikasi daalam beberapa hal, yaitu: pertama, penyediaan devisa
untuk membangun sektor lain yang membutuhkan teknologi dari luar negeri; kedua,
penyediaan hutan dan lahan sebagai modal awal untuk pembangunan berbagai
sektor, terutama untuk kegiatan perkebunan, industri dan sektor ekonomi
lainnya; dan yang ketiga, peran kehutanan dalam pelayanan jasa lingkungan hidup
dan lingkungan sosial masyarakat. Ketiga bentuk peranan tersebut berkaitan
dengan peranan sumberdaya hutan sebagai penggerak ekonomi yang sangat
potensial, sangat kompleks dan saling terkait. Peran SDH tersebut dikarenakan
sifat produk SDH, sebagai berikut: a. Kayu merupakan produk multiguna, sehingga
diperlukan banyak jenis industri dan produk kayu hampir selalu berperan pada
setiap tahapan perkembangan teknologi dan perekonomian, b. Konsumsi hasil hutan
(kayu dan bukan kayu) relatif stabil dan investasi usahanya relatif kecil serta
pengembalian modalnya dapat cepat kembali pada areal hutan alam (Soegiarto,
2017).
Untuk terwujudnya kelestarian sumberdaya hutan, dan
sejahteranya masyarakat, maka hutan perlu dikelola dengan manajemen yang baik,
dan dalam hal ini perlu didukung oleh aturan, kebijakan dan strategi
pengelolaan yang baik pula. Untuk memudahkan dalam penentuan arahan strategis
dan kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya hutan terlebih dahulu perlu nilai
ekonomi yang terdapat pada sumberdaya hutan tersebut. Dengan belum diketahuinya
nilai manfaat ekonomi yang terukur secara moneter karena belum adanya penilaian
ekonomi secara kuantitatif, sehingga mengakibatkan kurangnya pemahaman tentang
pentingnya fungsi hutan bagi kesejahteraan manusia secara lebih lengkap dan
mendalam (Fauzi dkk., 2011).
METODE PRAKTIKUM
Waktu
dan Tempat
Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan yang berjudul
“Identifikasi Pemanfatan Ekonomi Sumber Daya Hutan” dilaksanakan pada hari
Kamis, 25 Maret 2021 pada pukul 10:00 WIB sampai dengan selesai, Praktikum ini
dilaksanakan dirumah masing masing praktikan via Google Classroom dan Google
Meet.
Alat
dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah
Laptop, Alat Tulis dan Handphone.
Bahan yang digunakan dalam praktikum
ini adalah Jurnal Penelitian.
Prosedur
Praktikum
1.
Disiapkan alat dan bahan
2.
Dijelaskan manfaat pohon
3.
Dibuuat video
4.
Dibuat laporan
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil dari Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan yang
berjudul “Identifikasi Manfaat Ekonomi Sumber Daya Hutan” ini adalah terlampir.
Pembahasan
1. Lamtoro (Leucaena leucocephala)
Tumbuhan berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah, dan dari situ
kemudian menyebar luas. Penjajah Spanyol membawa
biji-bijinya dari sana ke Filipina pada akhir abad
XVI. Dari tempat ini mulailah lamtoro menyebar luas ke berebagai bagian dunia.
Lamtoro ditanam sebagai peneduh tanaman kopi, penghasil kayu bakar, serta sumber pakan ternak yang
lekas tumbuh.
Lamtoro mudah beradaptasi, dan
dengan cepat tanaman ini menjadi liar di berbagai daerah tropis di Asia dan Afrika; termasuk pula di Indonesia
yang menjadi tempat tumbuh favorit tumbuhan ini.
Lamtoro (Leucaena leucocephala) dimanfaatkan sebagai pohon peneduh,
pencegah erosi,
sumber kayu bakar dan pakan ternak. Di tanah-tanah yang cukup subur, lamtoro (Leucaena
leucocephala) tumbuh dengan cepat dan
dapat mencapai ukuran dewasanya (tinggi 13–18 m) dalam waktu 3 sampai 5 tahun.
Tegakan yang padat (lebih dari 5000 pohon/ha) mampu menghasilkan riap kayu sebesar 20 hingga 60 m³ per hektare per
tahun. Pohon yang ditanam sendirian dapat tumbuh mencapai gemang 50 cm. ika ditanam di dekat-dekat pohon lainnya, maka pohon di sampingnya akan
kekurangan sinar matahari.
Oleh sebab itu, biasanya lamtoro/petai cina ditanam sebagai pohon
pelindung/peneduh, dan untuk menanggulangi terjangan angin ribut.
Tumbuhan ini juga dapat dipakai
untuk pupuk hijau -dengan
cara membenamkan daun pangkasnya sebagai pupuk dalam tanah. Lamtoro (Leucaena
leucocephala) sangat disukai sebagai
penghasil kayu api. Kayu lamtoro (Leucaena leucocephala) memiliki nilai kalori sebesar 19.250 kJ/kg, terbakar
dengan lambat serta menghasilkan sedikit asap dan abu. Arang kayu lamtoro (Leucaena
leucocephala) berkualitas sangat
baik, dengan nilai kalori 48.400 kJ/kg. Kayunya termasuk padat untuk ukuran
pohon yang lekas tumbuh (kepadatan 500–600 kg/m³)
dan kadar air kayu basah antara 30—50%, bergantung pada umurnya. Lamtoro (Leucaena
leucocephala) cukup mudah dikeringkan
dengan hasil yang baik, dan mudah dikerjakan.
2. Mahoni (Swietenia mahagoni)
Tanaman (Swietenia
mahagoni) mahoni
termasuk jenis tanaman yang mampu bertahan hidup ditanah gersang sekalipun.
Walaupun tidak disirami selama berbulan-bulan, mahoni (Swietenia
mahagoni) masih
mampu untuk bertahan hidup. Syarat lokasi untuk budidaya mahoni (Swietenia mahagoni) diantaranya
adalah ketinggian lahan maksimum 1.500 mdpl, curah hujan 1.524-5.085 mm/tahun,
dan suhu udara 11-36oC. Genus Swietenia juga dikenal sebagai Mahoni
daun lebar, merupakan jenis pohon tropis endemik Amerika Tengah dan Amerika
Selatan yang memiliki persebaran alami yang luas, terbentang dari Meksiko
sampai Bolivia dan Brazil Tengah. Spesies mahoni ini juga ditanam di Asia
Tenggara dan Pasifik yaitu India, Indonesia, Filipina dan Sri Lanka.
Perkembangan alami optimum
mahoni
adalah pada kondisi hutan tropis kering dengan curah hujan tahunan 1000-2000
mm, suhu tahunan rata-rata 24oC dan rasio evapotranspirasi potensial
dari 1- 2. Di Indonesia mahoni
tumbuh pada ketinggian dari 0- 1500 mdpl, di daerah dengan suhu rata-rata
tahunan dari 20-28oC.
Kualitas
kayunya keras dan sangat baik untuk meubel, furniture, barang-barang ukiran dan
kerajinan tangan. Sering juga dibuat penggaris karena sifatnya yang tidak mudah
berubah. Kualitas kayu mahoni berada sedikit dibawah kayu jati sehingga sering
dijuluki sebagai primadona kedua dalam pasar kayu. Pemanfaatan lain dari
tanaman mahoni adalah kulitnya dipergunakan untuk mewarai pakaian. Kain yang
direbus bersama kulit mahoni akan menjadi kuning dan tidak mudah luntur.
Sedangkan getah mahoni yang disebut juga blendok dapat dipergunakan sebagai bahan
baku lem, dan daun mahoni untuk pakan ternak. Ekstrak biji pohon mahoni juga
dapat digunakan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama pada
pertanaman kubis, yaitu Plutella
xylostella dan Crocidolomia binonalis
khususnya pada saat hama berada pada stadia larva. Manfaat yang tidak dapat dihitung dari pohon ini yaitu
pohon ini dapat mencegah erosi dikarenakan memiliki akar yang besar dan banyak.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Ekonomi SDH
adalah suatu bidang penerapan alat-alat analisis ekonomi terhadap persoalan
produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi, penentuan harga termasuk dalam
kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan masyarakat (kesempatan kerja,
pendapatan produk domestik dan pertumbuhan ekonomi) yang termasuk dalam kajian ekonomi
makro.
2.
Sumberdaya hutan
(SDH) Indonesia menghasilkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada
tingkatan lokal, nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat
nyata yang terukur (tangible) berupa hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu
seperti rotan, bambu, damar dan lain-lain, serta manfaat tidak terukur
(intangible) berupa manfaat perlindungan lingkungan, keragaman genetik dan
lain-lain.
3.
Manfaat tangiable
dari pohon lamtoro (Leucaena
leucocephala) antara lain untuk kayu bakar, pakan ternak, dan pupuk, serta untuk manfaat intangible antara lain untuk pencegak
erosi dan peneduh.
4.
Manfaat tangiable
dari pohon Mahoni (Swietenia
mahagoni) antara lain untuk furniture, penggaris, bahan baku lem,
pestisida nabati serta untuk manfaat intangible
antara lain untuk pencegak erosi.
5.
Pohon
lamtoro (Leucaena
leucocephala) dan pohon mahoni (Swietenia mahagoni) dapat tumbuh dengan baik pada
iklim tropis dengan ketinggian 0-1500 mdpl.
3.2.
Saran
Penulis menyadari bahwa laporan diatas jauh
dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki laporan tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber yang
dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan
saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad
AR, Virsa HR. 2019. Mahoni (Swietenia
mahagoni ) Herbal Untuk Penyakit Diabetes. CV. Nas Media Pustaka. Makassar.
Budi SW. 2016. Module Pelatihan Penanaman Pohon. Faculty of Forestry IPB. Bogor.
Damayatanti PT. 2011. Upaya pelestarian hutan melalui pengelolaan sumberdaya hutan bersama masyarakat. KOMUNITAS. International Journal of Indonesian Society and Culture, 3(1).
Dwi RH, Susi A, Ragil B. 2011. Kajian Sengon ( Paraserianthes faltarica ) Sebagai Pohon Bernilai Ekonomi dan Lingkungan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 6(3) : 201-203.
Mukhlison. 2013. Pemilihan Jenis Pohon Untuk Pengembangan Hutan Kota di Kawasan Perkotaan Yogyakarta. Jurnal Ilmu Kehutanan 8(1) : 1-11.
Purba B, Nainggolan LE., Siregar RT, Chaerul M, Simarmata MM, Bachtiar E, Meganingratna A. 2020. Ekonomi Sumber Daya Alam Sebuah Konsep, Fakta dan Gagasan. Yayasan Kita Menulis. Medan.
Soegiarto E. 2017. Pengaruh Sawit Sebagai enggerak Perekonomian Indonesia Terhadap elestarian Hutan. Jurnal Legalitas, 2(1), 81-89.
Syamsu A, Supratman, Muhammad AKS. 2019.
Ekonomi Sumberdaya Hutan.
Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin.
Wahyudi A, Sugeng PH, Arief D. 2014. Keanekaragaman Jenis Pohon di Hutan Pendidikan Konservasi Terpadu Tahura Wan Abdul Rachman. Jurnal Sylva Lestari, 2 (3) : 1-10.
Yudi dan Anwar M. 2013. Model Pertumbuhan Pohon-pohon di Hutan Alam Paska Tebangan Studi Kasus pada Hutan Alam Produksi di Kab Kapuas Kalimantan Tengah. Jurnal Ilmu Hayati dan Fisik 15(3) : 190-195.
LAMPIRAN
Pohon lamtoro (Leucaena leucocephala)



Komentar
Posting Komentar